Followers

Tuesday, 31 July 2018

[Natsume Yuujinchou X Kuroko no Basuke Fannovel] "Eyes" by Ayame Kaizumi (R-18)


Eyes


Author:
Ayame Kaizumi

Cover Art:
Ayaka

Novel Illustration:
Dixcreate

Fandom:
Natsume Yuujinchou X Kuroko no Basuke

Pairing:
Akashi Seijuurou X Natsume Takashi

Size:
A5

Pages:
303+ (Including 2 illustration pages)

Web Version:


!WARNING: THIS IS AN R-18 FANFICTION!



Di tengah blog penuh curcolan doujinshi ini, biarkan saya makin mengotori blog lagi dengan curcolan fannovel OTP minor hasil commis-an.

Pertama, saya mau ngomong, percayalah saya gak nyesel fanfic ini dibukuin pake hardcover. Sumpah, pegangnya enak. Bacanya gak kalah enak. Gak usah takut pembatas buku hilang juga karena ada pita pembatas buku yang kesambung di atas buku—karena saya tipe yang suka panikan kalau pembatas buku mendadak gak ada di jarak pandang saya. Maaf, ya. Emang kampungan ini, jarang pegang buku hardcover. Biasa, tugas sekolah yang di-print A4 dan di-hardcover cuma dilhat sekilas, terus kumpul dan bomat asal dapet nilai. HAHAHA! :")

Jadi, cerita ini semua dimulai ketika saya commis fanfiksi ke Aya sekitar setahun lalu. Gak tanggung-tanggung, minta 25 ribu sampai 30 ribu kata, terus nambah lagi karena ditawarin. OTP saya itu kebanyakan minor, makanya biasanya kalau bisa commis jumlah kata banyak, langsung aja bablas, biar puas. Apalagi kalau disediain jasa dibukuin pake ilustrasi cover sekalian ilustrasi dalam buku. Udah, abis dompet saya. Kasihan, ya? Iya, kasihan. Cuma OTP lebih precious. Saya tipe yang maunya baca doang, gak mau mikirin plot awal sampe habis, jadi saya serahin pengembangan plot semuanya ke Aya dengan bekal plot awal yang saya mau gimana. Maaf, emang kurang ajar saya. Tabok aja gak apa, tapi kalau sampe, ya. Kisah-kasih sama Aya saya lanjutin nanti, ya. Sekarang saya mau bahas plot di dalem bukunya.

Sebenernya saya udah baca seluruh isi buku lewat HP—berhubung Aya udah unggah setengah ceri lebih ke WattPad dan FanFiction dan dia rajin kirim progress tiap chapter-nya lewat pesan pribadi, cuma saya baca ulang lagi waktu buku fisiknya sampai di tangan. Beda, dong, baca ulang chapter yang udah lengkap di buku sama baca nunggu chapter per chapter. Pasti lebih teliti kalau bacanya lanjut terus bablas pasti. Dan, yah, saya beneran menyadari beberapa hal yang lepas dari fokus saya waktu baca di HP.

Jadi, cerita dimulai ketika Takashi—a.k.a. Natsume Takashi—pulang belanja ikan, dideskripsikan dengan suasana sekitar dan soal Takashi sendiri. Kemudian berlanjut ke cerita kalau Takashi diteror youkai wanita di mimpinya, minta dibebaskan gara-gara terkurung. waktu Takashi pergi ke tempat youkai ini buat bebasin dia, habis itu Takashi gak sengaja dengar pembicaraan Natori sama seorang nenek yang berkata kalau dia dihantui mimpi buruk sampai ngungsi ke kota tempat Takashi tinggal untuk cari suasana yang lebih tenang. Setelah berbincang sama Natori, Takashi tahu kalau kayaknya ada youkai yang neror orang-orang—dan youkai ini bukan youkai yang sama dengan yang baru dia bebasin. Takashi itu memang hobi banget ikut campur kalau orang kesusahan, 'kan? Dia pun akhirnya nawarin bantuan ke Natori, dan di sini petaka jadi semakin besar. Takashi harus pindah sementara ke Kyoto buat mengusut kasus ini dan masuk ke SMA Rakuzan.

Jadi, dari sini akan ada banyak banget bocoran—walau yang saya bahas habis ini bukan urutan alur cerita, tetapi lebih banyak ke bagaimana pendapat saya soal fanfiksi ini. Kalau mau baca sendiri ceritanya, silakan menuju ke link yang akan saya taruh di bawah. Untuk versi web sendiri, ceritanya masih belum selesai dan sudah akan selesai. Silakan kalau tertarik baca sendiri! Dan kalau kalian mau tahu kisah-kasih saya dan Aya—ehem, maksudnya, cerita selama saya commis ke Aya—silakan lewati aja isi artikel setelah ini sampai ketemu lampiran foto selanjutnya setelah tulisan super panjang.

Jadi, saya akan mulai dari layout buku. Layout-nya manis banget, sungguh. Baru buka buku, saya udah disuguhin pake berbagai keresean Nyanko. Saya akan sedikit ngulang kata-kata Aya, " Ini cerita siapa, tapi siapa yang muncul di halaman depan." Terus saya rikues tanda tangan Aya, DAN DIKASIH NYANKO, LOH. HAHAHA! THANK YOU, LOH, AYA. :"D


Dan buat layout dalam bukunya ada bunga sakura menghiasi di tiap awal bab—ini yang saya bilang manis. Di setiap halaman, di pojok bawah ada Nyanko kelaperan rajin nyapain saya. Minta dikasih ebi furai dia. :(


Dan ada dua ilustrasi yang ditaruh di dalam buku. Salah satunya yang di bawah ini—adegan yang kayaknya paling bikin berisik di tengah cerita selain adegan Takashi dua kali pertama kali ketemu Akashi beda versi. Ilustrasinya dibuat oleh Dixcreate. Thank you! Saya suka sekali, loh! Ekspresi kaget malu-malunya Takashi itu precious banget! Oh, dan ngomongin ilustrasi, sampul bukunya juga sangat indah. Ilustrasi sampulnya dibuat oleh Ayaka. Terima kasih atas pewarnaanya yang sangat indah. Saya pelototin tiap hari, loh.


Balik lagi soal baca ulang tanpa harus digantung buat nunggu bab baru, saya jadi sadar kalau setiap bagian—termasuk adegan-adegan dan kata-kata yang menyangkut isi pemikiran karakter—yang ada di dalam cerita itu seakan punya benang penyambung tak kasat mata ke plot utamanya. Pertama dibaca seakan kayak adegan remeh yang ditujukan buat mainin emosi pembaca—gak, saya gak bilang saya benci adegan kayak gini, justru saya suka banget adegan penuh emosi, terutama kegundahan atau pendapat soal sesuatu—cuma karena saya udah pernah baca cerita ini sampai habis sebelumnya, saya jadi sadar dan berpikir, "Eh, loh, ini, kok, jadi kayak ada hubungannya sama isi kepalanya Si Youkai?" Yah, begitulah. Omong-omong, saya sadar sama hal ini waktu ada kalimat pendapat soal manusia di adegan awal bab 3.

Manusia adalah sosok yang rumit—tapi dari kerumitan itulah mereka menarik.
Dalam satu aspek ini, Madara mau tidak mau harus mengakui—manusia adalah pembohong yang hebat—bahkan jauh lebih ulung daripada makhluk lainnya.

Saya suka kutipan kedua karena bawa-bawa kebohongan. Entah kenapa, saya suka banget sesuatu yang bahas kebohongan, kelicikan, tipu muslihat, atau semacamnya. Kesannya agak gelap gitu. Ya, ampun. saya dan kesukaan saya. :")

Lalu, soal Akashi Seijuurou. Saya suka banget sama penggambaran Bokushi di sini. Dia semacam songong, paling tahu, paling rese—bisa disandingin sama kesombongan Nyanko.

Level kesombongan Akashi Seijuurou ini tampaknya bisa menjadi tandingannya.

Lihat, 'kan? Bahkan narasi buku mengatakan hal yang sama soal Akashi—tepatnya, Bokushi—dan Nyanko. Terus, saya juga suka interaksi Bokushi dan Takashi—bukan berarti saya gak suka interaksi Oreshi sama Takashi, loh, ya.

"Lama tidak bertemu, Takashi," suara milik Akashi kini lebih ringan, namun di sisi lain begitu mengintimidasi, "Kangen padaku?"

Bokushi tanpa ragu bisa godain Takashi, berbeda sama Oreshi yang kebanyakan lebih nahan diri di depan Takashi—karena Bokushi di sini dideskripsikan sebagai sisi agresif dari Akashi seijuurou. Yang nyebelin, DIA MASIH BISA BERCANDA SAMA TAKASHI DI SAAT KRUSIAL. HA! SAYA ANGKAT EMPAT JEMPOL BUAT KAMU, BOKUSHI!

Hal lain yang suka dari Bokushi, dia jadi semacam mak comblang kepribadian utamanya, ngedorong Oreshi buat jujur sama diri sendiri dan dia kelihatan jadi peran pembantu di belakang—padahal dia juga pegang kunci penting juga di kasus ini. Saya selama baca cerita ini, sejujurnya, merasa terombang-ambing sama sikap Bokushi. Dia sisi agresif Akashi seijuurou, dan dia yang berusaha ngewujudin segala ambisi dan keinginan Oreshi, tapi saya juga merasa dia punya kepribadian sendiri. Jadi, selama dia menyatakan ketertarikannya sama Takashi itu, dia mewakilkan Oreshi atau itu juga murni pernadapatnya? Maksud saya, dia seakan juga tertarik, tapi mengatasnamakan perasaan pribadi utamanya. Entah tujuannya buat ngedorong Oreshi atau memang untuk bersembunyi—walaupun emang jelas pada dasaenya seharusnya mereka punya ketertarikan pada hal yang sama. Biarkan itu jadi misteri untuk saya. Saya galau. :"

Omong-omong soal Bokushi ngedorong Oreshi buat jujur sama perasaannya, hubungan Takashi sama Akashi—tepatnya, Oreshi—memang rumit banget di sini. Di satu sisi mereka sadar mereka tertarik sama satu sama lain, tapi di sisi lain menyangkal. Dan karena masalah youkai yang jadi konflik utama di sini, Akashi sempat bikin jarak sama Takashi.
Setelah bilang begitu, pintu mengeluarkan bunyi keras ketika ditutup. Natsume ditinggal dalam kesendirian. Lelaki itu menghela napas panjang selagi merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Ketika matanya lurus menatap ke arah langit-langit, yang terlihat hanyalah sosok pria seumurannya dengan helai-helai rambut merah.

"Seijuurou-san..." mulutnya tanpa sadar merapal nama itu. "Apa yang seperti ini benar-benar demi kebaikanku?"

Karena sejatinya, Natsume sama sekali tidak merasa baik-baik saja.

Saya suka banget adegan di atas dari sepanjang Akashi jaga jarak dari Takashi, terutama kalimat terakhirnya. Kayak, galaunya itu makin dapet banget begitu kalimat itu ngehantam. Percaya, deh, Aya banyak naruh kalimat simpel tapi ngena kayak gini. Saya suka banget. Penggunaan bahasa Aya itu kayak berani, simpel, tapi nyimpen banyak makna. Buat saya begitu, sih. XD

Yah, balik lagi, intinya, hubungan mereka jalannya rumit banget, deh. Mereka gak mau melukai satu sama lain gitu, mau saling menjaga. Lucu, sih. Gemes, mereka sampai galau dan Nyanko jadi agak kesel sama Takashi. Gak apa, saya juga ikut galau, kok. Mereka gak sendirian. :"D

Dan perasaan mereka mau melindungi satu sama lain ini yang kemudian bikin situasi puncak makin seru. Waktu mereka berhadapan sama youkai musuh utama mereka, keduanya kayak saling mau numbalin diri gitu sampe negosiasi yang sebenarnya cukup pendek—percayalah, ini cuma sekitar 20-30 halaman dari 300 halaman buku—jadi terasa panjang. Konflik emosinya itu saya suka, karena di saat mereka numbalin diri sendiri, banyak pertimbangan yang dilakukan. Gak gampang ngorbanin diri buat orang lain.

Dan, bicara soal si youkai musuh utama, di sini disebut kalau jiwa Reiko dan korban-korban si youkai yang lainnya "putus" karena youkai itu, dan mereka gak jelas hidup-matinya. Istilahnya, jiwa mereka gak beristirahat dengan tenang. Saya gak tahu pas pertarungan mereka selesai, Reiko sama yang lainnya akhirnya jadinya gimana. Tapi ada satu adegan yang  yang bikin saya lebih penasaran lagi, masih berhubungan sama apa yang saya omongin ini.

Untuk terakhir kalinya, ia mendongak ke arah langit. Angin berhembus di telinganya, seolah ingin merangkai kalimat.

"Trims."

Bahkan Madara, yang kini bergantung pada pundak Natsume, tidak mampu mendengar bisikan itu.

ITU, ADEGAN ITU. Si Youkai selama adegan puncak nunjukin wujudnya di langit, sebagai awan. Di sisi lain, dia bilang kalau jiwa-jiwa yang diterornya sama jiwa Reiko dia bawa menembus atmosfer, terus dibiarin melayang di luar galaksi—dalam arti lain, letaknya di atas sana juga, jauh di balik langit yang ditatap Takashi. Jadi, itu kalimat terima kasih dari siapa? Reiko? Jiwa-jiwa itu? Gak ada penjelasan lebih detail, tapi saya nganggepnya Reiko, sih. Jadi, apa habis itu mereka bebas? Tidak ada yang tahu juga. Penasaran, sih. Cuma kadang saya suka ditinggal ngegantung gini sejujurnya. Haha. Maafkan saya yang maso ini. :")

Kemudian, saya mau bahas soal Natori Shuuichi. Biasanya saya gak sebegitu sukanya sama Shuuichi—saya suka mukanya tapi, hehe. Shuuichi itu precious kalau sama Takuma Yousuke—salah satu pembasmi youkai yang perannya minor banget di canon dan setiap muncul selalu di episode yang ada Shuuichinya—cuma secara garis besar Shuuichi bukan favorit saya. Cuma, saya suka banget sama penggamabaran Shuuichi di sini. Dia kelihatan cerdas seperti biasanya, dan dia lebih tegas di sini, gak terlihat semanipulatif di canon-nya. Sisi profesionalnya lebih keluar gitu. Walau saya jadi agak kasihan sama Takashi karena sempat disindir beberapa kali. Mungkin saya seneng soalnya berasa ajaran Papa Takuma jadi kayak berbuah melihat keprofesionalitasan Shuuichi di cerita ini. :")

Omong-omong soal Shuuichi, saya juga suka bagaimana cerita ini nyelesain konflinya bukan cuma dengan tenaga para pemeran utamanya, tapi juga ngelibatin beberapa karakter yang muncul lebih sedikit dibanding Nyanko—saya pakai Nyanko sebagai pembanding di sini soalnya dia bukan pemeran utama, tapi cukup banyak muncul. Terus, Shuuichi juga termasuk sebagai salah satu karakter yang menyelesaikan konflik.

"Oh, siapa saja punya titik lemah," sahut Natori. "Lihat saja Madara, yang katanya youkai terkuat—"

Ditukas kasar. "Aku memang youkai terkuat."

"—tapi disogok makanan saja sudah patuh." Mengabaikan pelototan kucing jejadian itu, Natori menyelesaikan kalimatnya.

Selain saya suka kutipan dari Shuuichi di atas, saya juga suka interaksi dia sama Nyanko. Terang-terangan dia nyindir Nyanko—kayak di canon. Interaksi mereka di sini gak banyak, cuma satu yang di atas itu lucu banget. Bisa-bisanya dia nyindir Nyanko di tengah rapat evaluasi.

Dan bicara soal Nyanko, saya suka banget karakter Nyanko yang emang banyak banget muncul di sini sebagai karakter rese-nyebelin yang sekaligus sumber humor di tengah pembahasan serius dan cerita penuh emosi. Ingin dibenyek gitu. Dikarungin terus dilempar ke kali boleh mungkin, ya?

Nyanko banyak banget ngatain Takashi—manusia, tepatnya. Cuma di sisi lain, dia mungkin khawatir sama Takashi kalau menurut saya. Cuma biasalah, Nyanko hobinya nyangkal. Bukan Nyanko namanya kalau gak begitu.

"Aku ini youkai, bukan peramal," cetus Madara kesal. 

"Kami biasa menggunakan halaman belakang untuk berkuda," terang Akashi selagi keduanya menapaki tangga menuju pintu depan. "Terakhir kali aku naik kuda adalah tiga tahun yang lalu—dan sekarang kami membayar orang untuk mengajak kuda-kuda kami jalan-jalan. Apa sensei juga suka kuda?"

"Aku lebih suka saus umami."—tidak perlu ditebak jawaban makhluk itu seperti apa. "Rumah sebesar ini memangnya buat apa? Main sepak bola? Kau dan ayahmu masih suka main kakurenbo, ya?"

Itu beberapa kutipan rese Nyanko. Yang pertama di tengah pembahasan serius, yang kedua itu waktu pertama kali di datang ke rumah Akashi dan dia malah ngereceh waktu ditanya baik-baik. Itu dijawab umami karena kalau itu Akashi nanya pakai bahasa Jepangnya, dia nyebut kuda jadi uma. Iya, sekali lagi, Nyanko ngereceh. Saya mau menyumpah. Minta dipites, ya? Kalau menurut saya, iya.

Terus soal youkai yang jadi konflik utama cerita, akhirnya dia tetap jadi sosok penuh misteri buat saya. Kayak, di akhir cerita, semua asumsi yang paling masuk akal sama dia disebut, tapi epilog yang dibawa pakai sudut pandang si youkai jadi bikin saya ragu. Apa asumsi terakhir itu semua bener? Dan omong-omong soal asumsi, jelas itu muncul karena misteri, 'kan?

Setelah saya baca ulang cerita ini, saya sadar kalau misteri di cerita ini lumayan kental, saya suka. Selama Takashi dan tokoh lain mikir, saya ikut mikir. Mereka semacam membuat berbagai asumsi, saya yang gak baca pun ikut gak yakin sama asumsi-asumsi itu, menambah kabut misteri dari si youkai. Mungkin sifat congkak si youkai ini yang bikin dia penuh misteri, sih. Di satu sisi, youkai ini kelihatan kayak peran jahatnya dan suka seenaknya, tetapi di sisi lain dia semacam cuma cari hiburan atau menyelediki hal yang bikin dia tertarik. Saya galau habis-habisan sama karakter dia, sumpah.

Karena itulah aku hidup dengan memakan rasa takut: sebab takut adalah salah satu emosi terkuat pada manusia, yang begitu sulit untuk disembunyikan. Memancing ketakutan juga begitu mudah, juga sangat cepat. Ingat, emosi kedua yang dipelajari oleh manusia pertama setelah memakan buah terlarang adalah ketakutan.

Itu salah satu kutipan si youkai yang saya suka. Kenapa saya suka? Karena kesannya gelap—MAAF.

Dan bicara soal si youkai, gak jauh-jauh juga dari Sawamura Katana yang sempat diganggu sama si youkai dan jadi salah satu peran yang membantu penyelesaian konflik. Sawamura di sini digambarkan penuh kecemasan karena dia dihantui Si Youkai. Sempat sekali dia didatangi Si Youkai secara langsung. Di adegan ini, Si Youkai yang muncul dengan wujud manusia digambarkan berkacamata, dan saya ingat Takashi juga pernah bertemu seorang murid berkacamata waktu awal masuk Rakuzan sekitar sebanyak dua kali di satu bab yang sama sebelumnya. Saya jadi mikir, apa mungkin murid itu Si Youkai? Terus, balik ke pertemuan Si Youkai dan Sawamura, saya gak tahu youkai ini sengaja munculin diri dan sok kaget waktu Sawamura bisa lihat dia atau gimana, cuma saya jujur takjub waktu di akhir cerita Sawamura bilang dia cerita ke ayahnya Si Youkai ngomong apa aja sama dia. Padahal, waktu ketemu langsung sama Si Youkai dia pasti ketakutan banget. Terus, Si Youkai ada nawarin Sawamura buat bantuin dia ngelenyapin Takashi sama Akashi dengan bayaran Si Youkai gak akan ngehantuin Sawamura lagi lewat mimpi. Kalau Sawamura nyeritain semua pembicaraan mereka ke ayahnya dan bantu penyelesaian konflik terakhir, itu artinya dia nolak tawaran youkai itu, dong? Saya agak penasaran dia nolaknya gimana, dan apa yang mereka omongin setelah itu, tapi sama sekali gak ada penjelasan lebih lanjut. Aduh, saya digantung lagi. Gak apa, saya suka. Ya, ampun. Maso banget, ya. :"

Dan omong-omong, ending ceritanya manis banget. Cuma ditutup sama adegan manis yang bikin kesengsem banget, dan kalimat-kalimat penutupnya juga indah, sumpah.

Kita sudah akan mencapai akhir curhatan saya. Jadi, ini yang terakhir dan paling gak penting. Ceritanya, saya suka banget sama interaksi Hayama dan Takashi. Cuma, disayangkan banget, semakin ke tengah cerita dan semkin banyak Akashi muncul, Hayama sendiri makin gak kebagian jatah dan perlahan menghilang. Padahal, dia di awal kayak jadi orang yang paling bantu Takashi beradaptasi dan khawatir waktu Takashi ngamuk. Sedih saya. Tapi saya cuma bisa kiss bye aja, deh. Kalau dia nongol terus, nanti Akashi kedepak sama cerewetnya dia. :"D

Jadi, curcolan saya soal isi buku sampai di sana. Di akhir cerita, saya nemu pesan cinta dari Aya.


Aya ngitung aja berapa lama commission ini selesai. Saya aja tahunya pokoknya setahun lebih, hahaha!

Jadi, saya mau cerita soal "jalan bisnis" saya dan Aya di sini. Jujur, ya, saya suka banget commis sama Aya. Curhat dikit, dari banyakannya komisi fanfiksi yang saya, yang benar-benar udah selesai itu bisa dihitung jari. Sebenarnya saya gak pernah mempersalahkan kalau apa yang saya pesan itu jadinya lama. Saya tahu buat cerita gak gampang, apalagi saya setiap commis itu hobinya ngasih prompt sependek mungkin dengan jumlah words yang kalau bisa sepanjang mungkin—sampe setebel atau lebih tebel dari novel kalau bisa. Yang saya suka dari Aya, walau dia bilang kerja dia lambat, dia selalu komunikasi progress dia ke saya dan kasih tahu setiap ada hambatan. Hal itu yang bikin saya jadi sabar nunggu dan sejujurnya jadi gak panik-panik cemas—yang ada, saya greget setiap digantung di ujung bab baru yang Aya kasih. HAHAHA! Dan jujur saya sebenernya tipe yang susah komunikasi sama orang, cuma chat sama Aya itu bawaannya lama-lama santai. Pokoknya, komunikasi Aya itu poin plus banget buat saya.

Jadi, buat Aya, tenang saja. Aku tidak kapok commis ke kamu, kok. Malah mau lagi—sudah terbukti aku main samber waktu Aya nawarin commis lagi pas minggu kemarin. Dan kamu gak nawarin pun aku udah niat commis lagi. Hehehehe! Dan, tenang, Ya. Aibku sebagian besar sudah tersebar luas, sudah bukan rahasia—bahkan Aya aja tahu beberapa aibku, ship-ship binal yang suka kupublikasi di linimasa facebook. Maafkan aku yang tidak tahu malu ini. :"

Jadi, buat kalian yang commis cerita, aku rekomenin Aya buat kalian. Silakan dikontak dan dicek media sosialnya kalau berminat!


Terakhir sebelum review sampah ini berakhir, terima kasih atas kerja kerasmu di bisnis pertama kita, Aya. Aku cinta banget sama fannovel OTP minorku yang pertama ini. Tapi jangan sedih, bisnis kita belum berakhir karena aku hampa tanpa asupan berkelanjutan. Ayo, menderita bersama OTP minorku. Dan aku mau nanya, kamu cenayang, ya? Aku mau buka kartu di sini. Judul yang kamu kasih buat fanfiksi ini itu deket-deket sama nama kode yang aku pake buat nyebut nama gebetan paling lamaku pas masa sekolah menengah dulu. HAHAHAHAH! Gak, aku gak CLBK, kok. Tenang. Cuma takjub aja Aya tahu kalau aku emang pengen cerita ini ngomongin soal "mata" mereka. Hebat, ya, Aya. Apa mungkin kita jodoh—eh, aku belom belok, kok.

Sekian ulasan sampah buat Eyes! Sampai di bisnis selaniutnya, ya, Aya. :))

No comments:

Post a Comment