Followers

Saturday, 6 February 2021

[Detective Conan Fannovel] "Russian Roulette" by Aya Kaizumi

 

Russian Roulette


Author:
Aya Kaizumi

Cover Art:
Rizqi AF

Novel Illustration:
Ari Antoni

Fandom:
Meitantei Conan

Pairing:
Edogawa Conan X Kudou Shinichi

Size:
A5

Pages:
480+ (Including 2 illustration pages)

Web Version:


Halo, lama tidak berjumpa! Kali ini saya kembali dengan ulasan—batukfangirlinganbatukfannovel commis-an baru. Akhirnya bisa ngasup OTP minor ini. Huhuhu!

Kali ini, saya dengan kurang ajarnya minta Aya nulis 60k++—semoga Aya gak trauma sama saya. Amin. Seperti biasa, karena saya pengen baca, bukan mikir, saya cuma kasih prompt awal ke Aya, terus sisanya Aya yang ngembangin. Aduh, mana genre-nya misteri begini, namanya juga fanfiction Detective Conan. Pasti Aya pusing, huhu …. Jangan capek tapi, Ya. Gia masih ingin commis

Oke, mari bahas isinya. Tolong jangan harap analisis ilmiah di sini, saya tidak bisa riset. Saya hanya bisa fangirling tidak terstruktur. Iya, isi ulasan jadi-jadian ini tidak terstruktu dengan baik.

Jadi, setengah cerita awalnya saya baca di PDF, waktu itu sekalian ngecek-ngecek saltik dll. Tetapi, setelah buku di tangan, saya anggurin dulu sekitar beberapa hari karena sedikit kesibukan, dan waktu saya bisa baca, saya baca dari awal lagi pelan-pelan. Tujuannya? YA, BIAR TIDAK CEPAT HABIS, ATUH. Commis sudah mahal-mahal, masa bacanya cepat-cepat?! Apa tidak sayang?! Saya, sih, sayang!

Sampul bukunya bagus banget. background-nya gak kuat. Feel-nya kayak DBH—IYA, JAUH, MAAF. SEKILAS GITU. Yang gambar sampul depannya Rizqi AF! Terima kasih sudah menghiasi sampul depan fannovel ini. (Sungkem)

Oh, liat, halaman depan ada tanda tangan Aya! Heheheh!


Seperti biasa, saya tidak akan menjelaskan soal plot satu per satu. Bikin capek. Saya tulis kesan-kesan saya saja, plus beberapa kutipan dari novel. Hal yang jelas, saya minta Shinichi dan Conan dibuat jadi orang yang berbeda di sini. Alasannya? Aduh, memang perlu ditanya? Kalau cerdas, pasti tahu, deh.

Pertama, cerita dimulai dari prolog yang mencekam. Kenapa mencekam? Bawa-bawa kematian. Entah berapa kali narasi dimasukkan kalimat seperti berikut:

Kau tidak akan pernah tahu kapan kau akan mati.

Seakan-akan si pembaca narasi itu sedang merapal kutukan, kalimat itu diulang terus dan terus. Dan, di akhir prolog, muncul kalimat mengerikan ini.


Yah, prolognya memberi kesan mengancam. Hahaha …. Jangan, saya belum mau mati. OTP minor saya banyak yang masih belum makmur. Apa?! Mereka akan makmur tanpa saya?! Hush! Sembarangan!

Mari lanjut ke bab 1. Cerita dibuka dengan salah satu kasus yang ditangani Shinichi. Saya tidak akan tulis detail-nya, tetapi saja takjub membaca bagian ini. Ada rasa kaget sekaligus simpatik yang muncul waktu kasus ini terkuak. Saya teriak? Iya. Mau bicara kasar, tetapi di sini tidak boleh bicara kasar. Simpan di hati saja kalau begitu. Menyudahi soal kasus, bab ini ditutup dengan cara yang agak … mengerikan? Sederhananya, bab ini dibuka dan ditutup dengan topik soal Shinichi dan kematian—konsep yang saya suka sejak saya menjejakkan kaki ke fandom Detective Conan.

Bab 2 baunya lebih damai dari bab 1, dan ini adalah bab di mana Conan pertama kali muncul secara resmi. Saya suka waktu Shinichi dan Conan adu mulut tidak penting, lucu. Shinichi harusnya jadi seperti anak kecil karena berdebat dengan anak kecil sampai dia sendiri kesal, tetapi saya justru mendapat kesan dia banyak menahan diri karena menaruh tembok usia secara sadar. Iya, Shinichi melihat Conan sebagai anak kecil yang menyebalkan—wajar. Saya juga sebal sama Conan. Tidak apa, Shinichi, saya paham. Kamu cukup sabar untuk tidak melayangkan tanganmu.

Salah satu debat yang paling buat saya mau cubit Conan itu ini:

"Kalau kau lebih cerdas, kenapa tidak sekalian ambil kelas akselerasi dan menyusulku di SMA?"

Lagi-lagi seringai menghiasi wajah bundah bocah itu. "Oh, niichan pasti sangat menyukaiku sampai-sampai ingin aku pergi ke SMA yang sama dengan niichan!"

Menyebalkan? Iya. Meningkatkan hasrat ingin menampol? Tentu. Terus, ada kalimat di benak Shinichi yang buat saya ketawa gak ketahan.

Bocah ini arogannya sudah mengalahkan tinggi menara Tokyo.

Sumpah, saya berasa receh banget di sini. Pengen nangis saking lucunya.

Di akhir bab, lagi-lagi sosok "kematian" muncul lagi, dan saya makin gatel bacanya. HAHAHA! Terus, di awal bab, saya kesel banget ada satu kalimat dimiringin, kayak sengaja mau bikin salah mikir.

Hei, begini-begini, tubuhnya adalah investasi berharga, bukan?

Kamu mau jual badan di [sensor], Nak?!?!

Di bab selanjutnya, Shinichi yang biasa harga tinggi dan kesombongannya setinggi langit dibuat nervous. Jujur, saya ikut merasakan gelisahnya dia, sih. Oh, ayolah, Shinichi itu, 'kan, ekstrover. Ekstrover aja bisa gelisah diajak makan sama orang-orang dewasa yang tidak dia kenal, kenapa saya yang introver tidak paham? Kalau saya jadi Shinichi, mungkin itu ponsel Megure sudah penuh sama pesan saya yang nanya macem-macem. "Aku harus pake apa, Inspektur?!" "Inspektur, aku adanya baju ini! Boleh?!" Dan lalala lilili.

Lalu, ada satu kalimat yang lucu.

Kalau ada orang yang lebih pantas disebut dengan frasa 'manis', maka orang itu adalah Edogawa Conan.

Oh, tidak, Anak Muda. Kamu jauh lebih manis. Conan, mah, kalah jauh. ;)

Saya cukup suka sama Hasebe—maafkan, aku lebih suka nama aslinya soalnya mengingatkan aku ke karakter judul animanga lain dan enak disebut. Kenapa? Agak terlihat homo—TIDAK, BERCANDA. Saya cuma suka soalnya sifatnya lucu, dan dari awal kelihatan banget ada ketertarikan lebih ke Shinichi—BU-BUKAN DALAM MAKSUD "ITU", YA!

Sayang dia—oh, baiklah, tidak usah disebut.

Omong-omong, waktu Shinichi diajak pergi sama Hasebe, Conan kayak bocah yang udah semangat PDKT, terus ternyata kedahuluan sama orang lain. Aduh, kasihan Conan—enggak juga, sih; reaksinya lebih minta diketawain dibanding dikasihanin.

"Niichan tahu, tidak? Leonardo da Vinci diakui homoseksual, lho!"

SANGAT PENTING SEKALI, YA, CONAN. AKU SAMPAI INGIN MENANGIS. Saya heran, kenapa dari semua kata-kata Conan, yang diingat Shinichi malah ini? Kamu kenapa, sih, Shinichi?

Baik, mari kita masuk ke spoiler berat. Aduh.

Hasebe mati, babai. Nangis. Baru nongol, deketin anak muda, modar. Kenapa coba? KENAPA? Habis itu, giliran Risa. Omong-omong Risa, namanya sama kayak temen saya—maaf. HAHAHA! Terus, Shinichi lucu banget. Kayaknya malu gitu tiap liat Risa. Dia mikir hal yang tidak baik pasti. Omong-omong, saya suka waktu Shinichi sama Risa bincang-bincang soal Prancis. Bahasannya menarik.

Mari kita lompat ke bab favorit pertama saya: bab 6. Kok, bab ini? Sebenarnya, saya suka deskripsi mimpi-mimpi buruk dan gelap. HAHAHAHAH! Aduh, kalau Shinichi dengar, pasti saya dipelototi. Maafkan. Tetapi, yah, dengan kata lain, deskripsi mimpinya itu memuaskan. Ketakutan dan kekagetannya, semua berasa. Yang saya suka adalah deskripsi bagaimana Shinichi mengalami mimpi itu seakan itu sesuatu yang nyata. Kayak lucid dream jadinya.

Terus, habis itu, saya ditimpa adegan Shinichi dan Conan terus. Bahagia sekali. Yang lucu itu waktu Conan bilang "sialan" ke Shinichi. Tidak sopan sekali anak ini. Siapa yang didik, sih? Terus Conan ogah balikin bola Shinichi, kayak anak kecil habis dapet barang gebetan saja.

Sejujurnya, saya kaget waktu tahu Conan ternyata jemput Shinichi di rumah karena khawatir. Kayak … "wah". Saking bingungnya harus komentar apa, cuma "wah" yang keluar, menekan perasaan ingin teriak. Anak ini memang seperti hajat, rese-rese bisa aja kayak begini. Baru saya gemes, habis itu ketawa kenceng waktu Shinichi panggil dia "tolol". Asli, sumpah, itu ngakaknya keterlaluan. Sumpah, ya, Conan. Orang lagi cerita, dia balasnya kayak orang melawak. Kesel banget.

Yang lebih minta dikatain lagi, mereka habis itu malah bersitegang. Oh, ayolah! :(

Waktu Shinichi pusing dia ingatnya Conan terus, asli, ngakak waktu dia malah nuduh Conan ngutuk dia. HAHAHAHAH! TOLOL BANGET. SUMPAH.

Terus Shinichi ketemu si Item, aduh. Waktu si Item lupa dia udah ngomong sampe mana, pas Shinichi jawab itu entah kenapa di kepala saya Shinichi kayak mikir, "Please, Bro." Yang kesel, orang lagi tegang, Conan lagi yang dipikirin. Asli, kamu kena pelet, Bro. Namun, yah, kalau tidak bucin, namanya bukan Kudou Shinichi.

Oke, mari lanjut. Akhirnya Shinichi yang samper Conan buat minta maaf. Katanya mau traktir. Yang heran, kenapa malah bawa Conan ke kafe demenan gadis-gadis remaja coba? Shinichi otaknya sudah kacau, ya? Haduh. Yang lebih sebel, CONAN, TERANG-TERANGAN BANGET SEBUT KATA "PERAWAN". TOLONGLAH.

Pengakuan: saya baca bab 9 itu nahan diri bikin tanda salib entah berapa kali. Conannya minta digebok banget—dalam berbagai artian. Semoga teman seasrama saya gak ada yang dengar saya teriak tidak jelas. Cepat amini, jangan baca aja.

"Kamu sendiri yang terlalu sering keluyuran ke mana-mana."

"Niichan mengucapkannya seolah-olah aku ini anjing."

Oke, saya tidak tahan di sana. Tololnya keterlaluan, sampai tenggorokan saya sakit menahan tawa. TETAPI HABIS ITU SAYA HAMPIR MAU BIKIN TANDA SALIB LAGI. YA, AMPUN. INI ANAK DI SEKOLAH BELAJAR APA? DI RUMAH PROFESOR BELAJAR APA? TOLONG. TOLONGLAH.

Omong-omong, saya kaget pas Conan mendadak suruh Shinichi berlutut. Mendadak teringat Tuan AS dari fandom lain—refleks nadanya terdengar penuh perintah gitu. Aduh, maaf, Conan.

OH, HALO, AKHIRNYA SAYA BERTERIAK DI BAB 10. CONAN, MULUTNYA, TOLONG. WAALU DEMIKIAN, LAGI-LAGI, ADA YANG BIKIN NGAKAK.

"Yah, niichan memang kadang-kadang agak kurang pintar."

JAHAT. JAHAT BANGET. MULUT ANAK INI JAHAT BANGET—oh, iya, saya ikut ketawa, sial. Maaf, Shinichi sayang, tidak bermaksud. Terus, Conannya kelihatanya makin mencurigakan makin ke sini. Dari awal sudah mencurigakan, sih, sebenarnya.

ADUH, OKE, BENTAR. SAYA TIDAK BUAT SALIB, TAPI ENTAH BERAPA KALI SAYA TERIAK, "DEMI TUHAN!" CONAN, JANGAN BUAT SAYA BERDOSA. TIDAK BAIK MENYEBUT NAMA TUHAN SEMBARANGAN. MAKIN LAMA MAKIN AGRESIF, [MASUKKAN KATA KASAR].

Namun pada akhirnya, bagi Shinichi, tetap kasus > Conan. Telepon datang, Conan didorong. Aduh, kasihan, deh.

ADUH, NONA AYA, TOLONG OMELI CONAN, BILANG JANGAN BUAT ORANG TERIAK TERUS. BOCAH AGRESIF KURANG AJAR. SUMPAH, DIA BELAJAR APA, SIH, DI SEKOLAH?

NAMUN TERNYATA SEMUA ITU HANYALAH HALU. HALUUUUU~! HAHAHAHAHAH! AHAHHAHAHA!

SUMPAH, YA. DI BAGIAN MEREKA BAHASIN MIMPI SHINICHI SOAL OTONASHI, SAYA AUTO, "DEMI [SEBUT NAMA EKSISTENSI TINGGI], BOCAH." GILAK, GILAK. SAYA TAHU KEPALA SAYA LIAR, TETAPI ANAK INI KEPALANYA SAMA LIARNYA SAMA SAYA. ANAK INI MIKIR SHINICHI SAMA OTONASHI APA—OTAKMU KETUKER SAMA SAYA, TIDAK, NAK?!

Terus, kasus belum selesai, mendadak masuk epilog. Bayangkan, betapa herannya diri ini, namun saya terus membaca. Kok, begitu?? YA, PENASARANLAH. Soalnya dari beberapa halaman lalu udah curiga kenapa detail salah seorang karakter diceritakan lebih lanjut, EH, TERNYATA SI SIAL INI BENER SAJA, YA. WADUH.

TERUS SI ONO NAKSIR SI ONO. SAYA KEK, "OH." TIDAK TERPIKIRKAN, NAMUN TIDAK KAGET. MASIH DALAM KOTAK PREDIKSI WALAU OTAK TIDAK MENEMBAK DENGAN JELAS. BENTAR, TAPI BUKANNYA SI ONO UDAH ENYAK-ENYAK, YA? SUDAH PUNYA ANAK PULA. YAH, NAMUN SAYA TIDAK BERHAK MENGADILI SOALNYA—GITULAH.

Lupakan. Jadi, ada satu dialog di epilog yang saya suka.

"Segalanya sah dalam cinta dan perang."

Wah, bocah sial, saya suka dialogmu di sini. Mantap. Saya kutip, yaks.

Jadi, sebentar, Conan itu apaan? Tuyul? Oke, dia tuyul … yang entah mengapa kata-katanya jadi semacem kayak "petunjuk" kejadian-kejadian setelahnya. Kesimpulan soal identitas Conan berakhir. Hilih, Shinichi, kamu ketempelan. Cepat cari dukun.

Bentar, sebenarnya masih banyak pertanyaan berputar di kepala saya, mengabaikan soal para pelaku. Kok, oknum R bisa, sih, mayatnya waktu itu ada, tapi masih hidup? Sejauh spekulasi simpel saya, pake "koneksi". Susahlah, orang banyak uang. (Heh) Tetapi, yah, saya ada merasa baba restoran itu agak janggal di bagian Risanya, sih. Sayangnya, ya, otak saya tumpul.

Lagi, lagi, jadi serbuk hitam itu semacem menandakan kehadiran pelaku-pelaku biadab ini? Hm, terus apalagi, ya? JADI SI VINCENT METONG ITU DIBUNUH SIAPA SECARA LANGSUNGNYA?!?!

Masuk ke impresi yang belum sempat dimasukin saja di paragraf-paragraf sebelumnya saja, deh. Tidak baik kebanyakan bertanya. Kalau kata guru saya waktu SMP, "Malu bertanya, sesat di jalan. Kebanyakan tanya, jadi begok."

Maaf bawa-bawa karya Aya sebelumnya, a.k.a. "Eyes". Di Eyes itu, 'kan, istilahnya ada "sosok misterius" juga, ya. Saya suka banget bagaimana Aya membuat karakter-karakter misterius di dua karya dia ini. Ada daya tariknya sendiri. Ehe. Hehe. Tidak, Conan, bukan kamu. Kamu main gameboy aja di sana, atau main sama mayat orang.

OH, BENTAR, INI CONAN BUNUHNYA TERAKHIR ITU PAKE CARA APA, YA? PENASARAN. Eh, lupa, kebanyakan tanya nanti jadi begok.

Mau tahu apa yang paling sedih? Pemeran utamanya bahkan tidak muncul di epilog. HAHAHAHAHAHAH! ADUH.

Oh, ada satu lagi, sebelum lupa. Waktu Conan liat Risa itu, dia sengaja abain aja biar Shinichi gak terlibat lebih jauh, 'kan? Biar ujungnya dia bisa—ah, bocah brutal.

Aya sepertinya sudah pernah saya beritahu juga kayak saya itu tidak pintar mengulas, apalagi berkata-kata. Yang perlu Aya tahu, tidak sekalipun diriku bosen baca buku ini. Sama sekali. Ini selesainya lama serius gara-gara ditimpa tugas terus, bukan karena bosen. Laporan mati satu, tumbuh seribu, sial. Lanjut, jadi, setiap Shinichi gelisah, setiap kasus baru datang, setiap Shinichi ketakutan, setiap Shinichi ragu, dan setiap interaksi Shinichi dan Conan, Gia suka semuanya. Biasanya saya itu bisa bosen di satu-dua bagian kisah, apalagi kalau masuk ke kisah kehidupan sehari-hari yang tidak ada tegang-tegangnya, tetapi di sini tidak ada yang seperti itu. Semuanya menyenangkan, bahkan waktu Shinichi kabur dari Ran di awal-awal itu. Maksudnya, bahkan walau ada adegan yang berpotensi bikin bosen pun, tidak bikin bosen karena Aya bikinnya gak terlalu panjang. Bisa dibilang, porsinya pas. Yang disayangkan itu cuma kepala Gia cetek, jadi saya ikut mikir keras seperti Shinichi. Bedanya, Shinichi jelas lebih pintar dari saya. HA. HAHAHA! Tambahan lagi, setiap perasaan Shinichi itu sampe ke tempat Gia. Makanya Gia suka banget. Aduh, bingung mau bicara apa lagi. Intinya, sebagus itulah karyanya. Yang kemarin bahkan kalah, Aya. Dua-duanya bagus, tetapi Gia lebih suka yang ini dengan berbagai pertimbangan. Aya benar-benar menangkap kesukaan Gia dengan baik, ya, sepertinya. HAHAHAHA!

Terima kasih, Aya. Mari kerja rodi bersama Gia bagian ketiga beberapa bulan lagi. HEHEHEHEH!

Catatan tambahan: Ya, ampun, ini bukunya antik banget, ada gamabr revolver-nya pake art paper. (GAK PENTING, IYA, MAKANYA MASUK CATATAN TAMBAHAN)


Catatan tambahan 2: EHEHEHEHE, GANCI OTP. EHEHEHEHE.

No comments:

Post a Comment